Dua Langkah Kemenristek untuk Kembangkan Vaksin Covid-19 di Indonesia
- MyCity News

- Jul 10, 2020
- 2 min read

Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman dan Institute Tropical Disease (ITD) Universitas Airlangga melakukan penelitian Whole Genome Sequencing (WGS) virus Corona.
WGS dapat menjadi dasar peneliti untuk berinovasi dalam menciptakan vaksin Covid-19 khas Indonesia.
"The Whole Genome Sequencing sangat penting untuk mengetahui klasifikasi jenis virus, dalam kaitannya dengan pengembangan vaksin di Indonesia. Sejauh ini LBM Eijkman sudah mengirim 10 dan Universitas Airlangga mengirimkan 5 The Whole Genome Sequencing ke bank data Global Initiative on Sharing All Influenza Data (GISAID)," terang Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional Bambang PS Brodjonegoro.
Bambang menerangkan itu saat "Webinar Research on Covid-19 and Technology Development in Indonesia" yang diadakan oleh the Australian National University (ANU), Rabu (8/7/2020).
Bambang menambahkan bahwa saat ini ada 60.000 WGS lebih yang diterima GISAID dari berbagai negara. GISAID mengklasifikasi virus Corona menjadi tujuh kelompok, yaitu S, G, GR, GH, V, L dan O (Others).
"Hasilnya dari 15 WGS yang telah dikirimkan, diketahui sebagian besar tipe virus yang berkembang di Indonesia, termasuk kelompok L yang mempunyai kesamaan dengan Wuhan, China, satu termasuk kelompok S yang sama dengan Covid-19 di Eropa, dan satu termasuk kelompok O atau jenis virus Covid-19 lainnya yang belum dikenali," Bambang menjelaskan.
Untuk itu, Kemenristek/BRIN melakukan dua langkah untuk mengembangkan vaksin Covid-19 di Indonesia.
Pertama, meneliti dan memproduksi vaksin Covid-19 secara mandiri berbasis strain virus asli di Indonesia. Penelitian ini dipimpin oleh LBM Eijkman dengan metode protein rekombinan.
Kedua, bekerja sama dengan perusahaan farmasi luar negeri. Saat ini, Kemenristek sudah bekerja sama dengan Cina karena memiliki kesamaan tipe virus.
Indonesia tetap membuka kerja sama dengan mitra internasional lain dengan mengedepankan kesetaraan dan transfer teknologi. Harapannya, Indonesia tak hanya menjadi tempat uji klinis pengembangan vaksin dari luar negeri, tetapi juga terlibat dalam pengembangan vaksin. (Al-Hanaan)
Foto: Ristek BRIN

Comments