top of page

Contohkan Protokol Kesehatan, Doni Tak Lepas Masker Selama 4 Jam Rapat Kerja

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Jul 15, 2020
  • 2 min read


Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo beserta jajaran mengadakan Rapat Kerja bersama Komisi VIII DPR RI di Senayan, Senin (13/7/2020).


Rapat yang mengevaluasi kinerja dan anggaran program penanggulangan pandemi Covid-19 itu dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan Syadzily. Ia didampingi oleh Ketua Komisi VIII Yandri Susanto, Wakil Ketua Ihsan Yunus, Wakil Ketua Laksyada TNI (purn) Moekhlas Sidik dan dihadiri sebanyak 49 anggota Komisi VIII DPR baik secara langsung maupun daring.


Rapat Kerja dilakukan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Untuk Rapat Kerja luring, kehadiran peserta sengaja dibatasi untuk mencegah penularan Covid-19.


Bangku ditata dan dilabeli tanda silang agar peserta tidak duduk berdekatan. Jarak antarbangku kurang lebih satu meter.


Meski dalam kondisi pandemi, rapat berlangsung interaktif. Seluruh peserta rapat menyimak paparan, arah, dan aktif bertukar pikiran.


Ketua Gugus Tugas Nasional, Doni Monardo mencontohkan penerapan protokol kesehatan. Selama empat jam rapat, ia tidak melepas masker hingga selesai rapat.


"Hari ini saya dari datang sampai sekarang tidak lepas masker. Jadi mulai datang masuk ruangan ini sampai dengan sekarang tidak lepas masker," ungkap Doni.


Dalam rapat itu, Doni juga membawa masker cadangan dan menunjukkan pada para peserta rapat.


Ketika menunjukkan masker, Doni menceritakan pengalaman kunjungan kerja di Merauke bersama Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily dan rombongan Meteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan serta Menteri Kesehatan.


Saat kunjungan kerja, Wakil Ketua Komisi VIII DPR, Ace Hasan Syadzily membagikan masker cadangan kepada wartawan yang meliput. Bagi Doni, langkah itu patut dicontoh.


"Kemarin Pak Ace di Merauke memberikan masker kepada wartawan yang bertanya kepada Bapak Menko PMK Muhadjir Effendy. Kita tidak cukup hanya membawa satu masker, ini saya membawa banyak masker (cadangan)," kenang Doni.


"Jaga jarak sangat mudah diucapkan, tetapi paling sulit dilakukan," imbuh Doni.


Sulitnya penerapan protokol kesehatan pada masyarakat dapat diatasi dengan pendekatan kearifan lokal. Untuk itu, peran dan pelibatan tokoh adat, pemuka agama, antropolog, sosiolog, dan psikolog agar sosialisasi tepat sasaran.


Hasil Rapat Kerja adalah pembahasan anggaran, pengelolaan Dana Siap Pakai (DSP), peningkatan kapasitas uji PCR-Test untuk Covid-19, dan sosialisasi pencegahan Covid-19 melalui pendekatan kearifan lokal.


Rapat Kerja itu juga mengupayakan kampanye Covid-19 dengan penggunaan bahasa yang mudah dipahami masyarakat, jaminan kegiatan pendidikan selama pandemi, implementasi biaya tes cepat sebesar Rp 150.000, pengimbauan masyarakat untuk menaati protokol kesehatan, dan akselarasi penelitian atas vaksin anti virus Covid-19. (Al-Hanaan)



Foto: Danung Arifin - BNPB

Comments


bottom of page