top of page

Bio Farma dan Sinovac Bakal Transfer Teknologi Usai Uji Klinis Vaksin Tahap III

  • Writer: MyCity News
    MyCity News
  • Aug 13, 2020
  • 2 min read


BUMN farmasi, PT Bio Farma (Persero) masih menghitung kebutuhan dana untuk membeli bahan aktif pembuatan vaksin Covid-19 dari Cina. Dipastikan tak ada investasi baru untuk fasilitas pembuatan vaksin.


Sekretaris perusahaan Bio Farma, Bambang Heriyanto mengataka kolaborasi dengan Sinovac Biotech Ltd. tidak membahas keharusan Bio Farma untuk membayar royalti vaksin Covid-19.

"Beli saja, pengadaan bahan aktifnya. Jadi sama-sama untung, mereka kan kapasitas produksinya kecil, tapi saya tidak tahu mereka pastinya berapa. Kebutuhan dananya nunggu fase tiga selesai," kata Bambang, Rabu (12/8/2020).


Dia menambahkan, kebutuhan bahan baku vaksin Covid-19 bisa dipenuhi perusahaan karena platform pengembangan antara Sinovac dan Bio Farma berupa inactivated vaccine. Bio Farma hanya membeli bahan aktif dari Cina dan menggunakan bahan baku yang sudah tersedia di fasilitasnya.


Meski demikian, Sinovac hanya menjual bahan aktif ke Indonesia dalam jumlah terbatas. Usai uji klinis ketiga, Bio Farma dan Sinovac segera melakukan transfer teknologi.


"Nanti melakukan transfer teknologi, formulasinya seperti apa, baru itu ada transfer teknologi. Kalau datang kita tinggal produksi, bahan lainnya sudah ada," ungkap Bambang.

Kesiapan fasilitas produksi sebanyak 100 juta dosis per tahun. Jumlah ini merupakan kapasitas produksi yang belum terpakai dari total maksimal sebesar 2,5 miliar hingga 3 miliar per tahun.


Mengingat kebutuhan yang tinggi dan mendesak, Bio Farma akan mempercepat penyelesaian fasilitas produksi baru. Dengan fasilitas baru ini, perusahaan akan mendapatkan kuota produksi hingga 250 juta dosis per tahun.


"Kami memang sedang mengembangkan penambahan fasilitas untuk meningkatkan kapasitas. Ternyata terjadi pandemi ya fasilitas ini kita alihkan dulu untuk kepentingan tersebut," jelas Bambang.

Pada Februari lalu, Direktur Utama Bio Farma Honesti Basyir mengatakan BUMN Farmasi mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 3 triliun. Sebanyak Rp 2 triliun di antaranya akan diserap oleh PT Kimia Farma Tbk (KAEF). Sisanya diserap oleh Bio Farma dan PT Indofarma Tbk (INAF). KAEF dan INAF adalah anak usaha Bio Farma. (Al-Hanaan)


Image by Bao_5 from Pixabay



Comments


bottom of page